Skip to content Skip to footer

Selamat Datang di Laman Sejarah Gereja Santo Petrus dan Paulus!

Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar bukan sekadar bangunan di tengah hiruk pikuk Jakarta. Ia adalah jantung iman yang telah berdetak lebih dari seabad, menjadi saksi bisu perjalanan ribuan umat di Mangga Besar dan sekitarnya.

Kisah ini bukan hanya tentang batu dan semen, tetapi tentang semangat, pengorbanan, dan iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mari kita selami bersama perjalanan luar biasa ini, dari sebuah rintisan kecil hingga menjadi rumah rohani kita bersama.

Akar Sejarah: Benih Iman Pertama di Batavia (1898 – 1935)

Rintisan kecil terjadi pada tahun 1898. Di tengah denyut kehidupan Pecinan “Toko Tiga”, Glodok, seorang imam bernama Pastor H. Kortenhorst, SJ memulai sebuah karya senyap. Beliau dengan sabar menanamkan benih iman kepada para imigran Tionghoa dengan pengajaran katekese. Meski tak banyak terdengar, karyanya menghasilkan banyak pembaptisan hingga beliau wafat pada 1917.

Api yang sempat meredup kembali menyala pada tahun 1932 dengan kedatangan Pastor Edwards Cappers, MSC. Dari kediamannya di Centraal Missie Bureau (Kantor Waligereja) di Jl. Gunung Sahari 82, beliau tidak hanya melanjutkan karya bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga merangkul umat dari Flores dan Kei dengan mengadakan Misa Kudus dalam bahasa Melayu—sebuah langkah yang visioner pada masanya.

Momen penting terjadi pada 30 Juli 1932. Sebidang tanah di Prinsenlaan (kini Jl. Mangga Besar Raya) no. 135 yang semula milik Paroki Katedral diserahkan kepada Bruder-Bruder Budi Mulia. Di sanalah, pada 27 Juni 1933, berdiri Hollandsche Chineesche School (HCS). Sekolah ini bukan hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ladang subur bagi tumbuhnya komunitas iman. Dari sinilah cikal bakal paroki kita lahir, ditandai dengan Misa dalam bahasa Latin dan Melayu pada 3 Februari 1935 di salah satu pondok HCS.

Era Gereja Darurat: Membangun Iman di Tengah Keterbatasan

1. Gereja Darurat Pertama & Lahirnya Paroki (1935 – 1948)

Siapa sangka, sebuah aula sekolah HCS menjadi gereja pertama kita! Dengan status Hulpkerk (stasi dari Katedral), Misa mingguan mulai rutin diadakan. Pada 1938, tongkat estafet pelayanan diberikan kepada Pastor Leo Zwaans, SJ, dengan sebuah misi besar yang diberikan Mgr. P. Willekens, SJ: mendirikan gereja mandiri berbahasa Melayu pertama.

Tanggal 3 Januari 1940 menjadi tonggak sejarah. Melalui Stichtingsbrief (surat keputusan pendirian), Gereja Santo Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar resmi didirikan! Pastor Leo Zwaans, SJ menjadi gembala pertama kita. Saat itu belum ada gereja tetap dan direncanakan membangun.

Namun, badai Perang Dunia II menerjang. Para imam Belanda diasingkan, dan rencana pembangunan gereja pun terhenti. Di tengah kegelapan itu, muncullah para “rasul awam”—Joseph Lo Siauw Sien, Johanes Tan Giok Sie, Bapak Poedjowijatno, Tan Jan Djwan, dan Andreas Auw Jong Peng Koen (P.K. Ojong), Nyonya Yap. Mereka adalah pilar yang menjaga api iman tetap menyala melalui kegiatan ibadat, paduan suara, pengajaran, serta urusan administrasi dan keuangan.

Saat perang usai, Pastor Zwaans kembali pada 1946 dan diangkat sebagai Pastor Kepala dan Tahun 1947, Pastor W. Krause van Eeden dan van der Werf SJ membantu serta mulai didirikan pastoran sederhana di Prinsenlaan 26. Umat telah berkembang pesat hingga 1.200 jiwa. Aula sekolah tak lagi cukup. Kebutuhan akan gereja yang lebih besar menjadi begitu mendesak.

2. Gereja Darurat Kedua & Perjuangan Mencari Ruang (1950 – 1963)

Kerinduan umat akhirnya terjawab. Pada 16 Juli 1950, sebuah gereja darurat kedua di Prinsenlaan 26 (dekat kali Beton atau gang Sumur Bor) diberkati oleh Mgr. Willekens. Bangunan sederhana ini—berdinding setengah tembok dengan tiang kayu—menjadi oase rohani selama lebih dari satu dekade.

Pelayanan pun semakin kaya dengan kehadiran para imam berbahasa Mandarin seperti Pastor Conradus Braunmandl, SJ dan Romo Agustinus Phan Liang Ching, Pr dan berdirinya Kapel Dwiwarna (1952).

Umat terus bertambah, kepemimpinan silih berganti. Pastor Robertus Bakker, SJ (1959) mulai mencari lahan baru yang lebih luas. Matanya tertuju pada sebuah lokasi potensial: bekas pabrik es “Djakarta” di Prinsenlaan No. 55. Namun, perjuangan mendapatkannya tidaklah mudah; terkendala masalah finansial dan administrasi dengan pemerintah.

3. Gereja Darurat Ketiga: Satu Langkah Menuju Impian (1964 – 1969)

Perjuangan dilanjutkan oleh Pastor Fredericus Middendorp, SJ. Sebagai solusi sementara, pada 15 Agustus 1964, dibangunlah gereja darurat ketiga di halaman belakang pabrik es. Gereja kayu sederhana ini menjadi saksi betapa besar harapan umat akan sebuah “rumah rohani” yang lebih layak.

Akhirnya, pada 26 November 1964, kontrak pembelian lahan pabrik es berhasil ditandatangani! Meskipun pabrik es tersebut belum sepenuhnya kosong dan harus direnovasi. Di bawah kepemimpinan Pastor Bernardus Schouten, SJ (1966), sebuah rencana besar mulai disusun: mengubah pabrik es menjadi gereja permanen yang cukup untuk menampung umat yang semakin bertambah. Dalam tugasnya, ia dibantu oleh Pastor Joannes ten Berghe, SJ; Pastor Matthias Leitenbauer, SJ (sejak 1963); dan Pastor Fredericus Middendorp, SJ (mulai 1969).

Wujud Impian: Lahirnya Gereja Permanen (1970 – Sekarang)

Malam Natal tahun 1970 menjadi momen tak terlupakan. Sebanyak 6.725 umat untuk pertama kalinya dapat merayakan Misa di dalam gedung bekas pabrik es, meski renovasi belum rampung sepenuhnya. Haru dan sukacita memenuhi ruangan itu.

Setelah perjuangan panjang, impian itu akhirnya terwujud. Tepat pada ulang tahun paroki ke-37, 3 Januari 1977, gereja permanen kita diberkati oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ. Dalam penggembalaan umat, Romo Sugiri van de Heuvel, SJ sebagai pastor kepala, didampingi Romo Indrakarjana dan Romo de Meulder.

Perjalanan tak berhenti di situ. Seiring pertumbuhan umat yang luar biasa, gereja kita terus bersolek dan berbenah:

  • 1980-an: Renovasi besar pertama menghadirkan ornamen kaca patri indah karya seniman Gregorius Sidharta, T. Sutanto dkk. dan rancangan ulang struktur oleh Sri Uripto. Gereja kembali diberkati pada 23 November 1986 oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ.
  • 1990-an: “Gereja darurat ketiga” yang berada di belakang mulai dirombak dan Pembangunan Gedung Aula Santo Petrus diupayakan untuk berbagai kegiatan umat.
  • 2000-an: Serangkaian renovasi untuk perbaikan sakristi dan balkon (2002), dan penambahan kapasitas kursi hingga 1.500 umat (2005). Pada masa ini, ditambahkan relief 12 burung merpati di balkon, simbol para rasul dan Roh Kudus yang menaungi umat. Tahun 2017, diresmikan juga GKP St. Petrus di area depan gereja.

Merawat Impian demi keamanan dan kenyamanan

Pada tahun 2023, sebuah pemeriksaan struktur menyadarkan kita akan adanya kerapuhan pada atap dan penurunan fondasi. Demi keamanan dan kenyamanan jangka panjang, keputusan besar pun diambil oleh Rm Agustinus Purwantoro SJ: saatnya membangun kembali rumah kita.

Setelah melalui proses perencanaan panjang dan penuh lika-liku, pada 25 Mei 2025, Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo memberikan restunya. Tonggak pertama fondasi gereja baru telah dipancangkan pada hari kemerdekaan RI ke-80, 17 Agustus 2025, dan kini proses pembangunan tengah berjalan.

Epilog: Kisah Ini Milik Kita

Dari sebuah rintisan di Pecinan, tertanam di sekolah, tertabur di beberapa tempat darurat hingga tumbuh menjadi paroki yang hidup dengan 10 wilayah dan 54 lingkungan, inilah kisah kita. Sebuah kisah tentang iman yang tak pernah lekang oleh waktu, benturan-benturan yang membentuk fondasi iman. Perjalanan ini masih terus berlanjut, dan kini giliran kita untuk menuliskan babak selanjutnya…

Go to Top