Santo Petrus: Dari Penjala Ikan yang Rapuh Menjadi Batu Karang Penjaga Umat
Pernahkah kau merasa lelah setelah bekerja semalaman tanpa hasil? Merasakan jala hatimu kosong dan usahamu sia-sia? Jika pernah, maka kau akan mengerti perasaan Simon, seorang nelayan sederhana yang hidupnya akan segera dijungkirbalikkan oleh sebuah perjumpaan tak terduga.Simon, Pria Laut yang Impulsif
Jauh sebelum dunia mengenalnya sebagai Petrus, ia adalah Simon, saudara Andreas, anak Yohanes/Yunus. Seorang pria dari Betsaida, Galilea yang tangguh, dengan tangan yang kasar karena menarik jala dan kulit yang legam terbakar matahari. Hidupnya berputar di sekitar perahu, ikan, dan Danau Genesaret. Ia adalah pria yang bertindak lebih dulu baru berpikir kemudian; hatinya berapi-api, penuh semangat, namun terkadang goyah seperti perahu di tengah badai. Suatu pagi, setelah semalaman bekerja tanpa hasil, Simon sedang membersihkan jalanya dengan lesu. Lalu, seorang Guru bernama Yesus naik ke perahunya untuk mengajar orang banyak. Setelah selesai, Ia menoleh pada Simon dan memberikan perintah yang terdengar aneh: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Dengan sedikit ragu namun hormat, Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Apa yang terjadi selanjutnya mengguncang jiwa Simon. Jala mereka terisi begitu banyak ikan hingga mulai koyak! Melihat keajaiban itu, Simon tersungkur di depan Yesus dan berkata:“Tuhan, pergilah dari padaku, sebab aku ini seorang berdosa.” (Lukas 5:8)
Di momen itulah, Simon sadar ia bukan berhadapan dengan seorang guru biasa. Dan Yesus menjawabnya bukan dengan penghakiman, melainkan dengan sebuah undangan:
“Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” (Luk 5:10)
Sebuah Nama Baru, Sebuah Takdir Baru
Sejak saat itu, Simon menjadi salah satu murid terdekat Yesus. Puncaknya terjadi ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Tanpa ragu, dengan keyakinan yang meluap, Simon menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16) Jawaban inilah yang membuat Yesus menatapnya dan memberikan sebuah proklamasi yang akan menjadi arah hidupnya:“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)
Simon, si nelayan, kini menjadi Petrus, yang berarti Batu Karang. Ia dipilih menjadi fondasi yang kokoh bagi komunitas para pengikut Kristus yang akan datang. Sebuah tugas raksasa untuk seorang pria biasa.
Saat Batu Karang Itu Retak
Namun, kisah Petrus tidak akan lengkap tanpa menunjukkan sisi kerapuhannya. Ironisnya, batu karang yang sama yang berjanji akan setia sampai mati, justru retak di saat yang paling genting. Pada malam Yesus ditangkap, di tengah dinginnya halaman imam besar, Petrus yang ketakutan menyangkal mengenal Gurunya. Tidak hanya sekali, tetapi tiga kali, persis seperti yang telah Yesus katakan. Suara ayam berkokok menjadi alunan paling memilukan yang menghancurkan hatinya. Batu karang itu hancur dalam penyesalan.“Apakah Engkau Mengasihi Aku?”: Panggilan Kedua
Setelah kebangkitan-Nya, Yesus tidak meninggalkan Petrus dalam kehancurannya. Ia menemui Petrus kembali, di tepi danau yang sama tempat Ia pertama kali memanggilnya. Di sana, di dekat bara api yang mungkin mengingatkan Petrus pada api di halaman imam besar Yesus tidak memarahinya. Sebaliknya, Ia bertanya dengan lembut: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Tiga kali Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan tiga kali pula Petrus menjawabnya, hatinya pedih namun tulus. Setiap jawaban “ya” dari Petrus seolah memulihkan setiap luka dari tiga penyangkalannya. Setelah jawaban yang ketiga, Yesus memberikan tugas yang memperbarui panggilannya:“Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:17)
Panggilan kedua ini jauh lebih mendalam. Jika panggilan pertama didasari oleh semangat dan janji Petrus, panggilan kedua ini didasari oleh pengampunan dan kasih Kristus. Petrus kini tahu bahwa kekuatannya bukan pada dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan yang memulihkannya.
Kunci Sang Gembala
Dengan pemulihan inilah, amanat “Kunci Kerajaan Surga” menemukan maknanya yang sejati. Kunci itu bukanlah untuk menghakimi di gerbang surga, melainkan kunci seorang gembala. Kunci untuk membuka pintu pengertian bagi umat, melindungi kawanan domba dari ajaran sesat, dan membimbing mereka dalam jalan kebenaran. Petrus, sang batu karang yang pernah retak dan kini dipulihkan, menjadi simbol bahwa kepemimpinan dalam Gereja bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang pertobatan dan kasih yang tanpa henti.Refleksi Untukmu:
Kisah Santo Petrus adalah kabar baik bagi kita semua yang pernah gagal, yang pernah berjanji namun mengingkari, yang pernah merasa tidak layak. Ia mengajarkan bahwa kejatuhan bukanlah akhir dari cerita. Justru di dalam kelemahan kitalah kuasa pengampunan Tuhan menjadi paling nyata. Bagaimana caramu bisa menjadi ‘batu karang’ bagi orang di sekitarmu, bukan karena kekuatanmu sendiri, tetapi karena engkau tahu rasanya diampuni dan dipulihkan?
