Skip to content Skip to footer

Santo Paulus: Ketika Sang Pemburu Menjadi Gembala

Pernahkah kau begitu yakin akan kebenaranmu, hingga rela melakukan apa saja untuk membelanya? Lalu, bagaimana jika suatu hari, Tuhan sendiri menemuimu di tengah jalan dan berkata bahwa selama ini kau keliru? Inilah drama kehidupan yang mengubah segalanya bagi seorang pria bernama Saulus.

Api Semangat Saulus: Sang Pembela Tradisi yang Fanatik

Bayangkan seorang pemuda cemerlang bernama Saulus. Lahir di Tarsus, kota yang ramai, ia adalah perpaduan sempurna antara kecerdasan Yahudi dan wawasan dunia Romawi. Ia bukan orang sembarangan; ia adalah murid terbaik dari Gamaliel, guru paling terpandang di Yerusalem. Di benaknya, tradisi leluhur adalah segalanya, dan ia siap mati untuk membelanya. Lalu, datanglah sebuah gerakan baru yang pengikutnya menyebut guru mereka, Yesus, sebagai Mesias. Bagi Saulus, ini adalah racun, sebuah penghinaan terhadap hukum Taurat yang begitu ia junjung tinggi. Maka, dengan api semangat yang menyala-nyala, ia menjadi “badai” bagi jemaat Kristen perdana. Ia menyeret pria dan wanita dari rumah mereka, menjebloskan mereka ke penjara, dan bahkan berdiri setuju saat Stefanus, martir Kristen pertama, dirajam hingga mati. Di matanya, ia adalah pahlawan yang sedang membersihkan agamanya.

Jalan Menuju Damsyik: Cahaya yang Mengubah Segalanya

Dengan surat kuasa di tangan, Saulus dan pasukannya berkuda menuju Damsyik. Misinya jelas: menangkap lebih banyak lagi pengikut Yesus. Namun, Allah punya rencana lain. Di tengah perjalanan yang berdebu, tiba-tiba langit terbelah! Sebuah cahaya yang jauh lebih terang dari matahari siang bolong menyambar mereka, membuat Saulus terhempas dari kudanya, jatuh tersungkur ke tanah. Lalu, sebuah suara menggema, bukan di telinga, tapi langsung ke dalam jiwanya:
“Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”
Gemetar dan kebingungan, Saulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Dan jawaban itu mengubah dunianya selamanya:
“Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.”
Dalam sekejap, seluruh keyakinan yang ia bangun hancur berkeping-keping. Pria yang ia benci, yang pengikutnya ia buru, ternyata adalah Tuhan sendiri. Setelah perjumpaan itu, Saulus menjadi buta. Selama tiga hari ia tidak bisa melihat, makan, ataupun minum. Tiga hari dalam kegelapan fisik, namun mata hatinya justru mulai terbuka untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Lahirnya Paulus: Hati yang Baru, Misi yang Baru

Setelah penglihatannya dipulihkan oleh seorang murid bernama Ananias, Saulus tidak lagi sama. Ia yang dulu dipenuhi amarah kini dipenuhi oleh kasih karunia. Ia dibaptis dan memilih nama baru: Paulus. Sebuah nama yang menjadi simbol transformasi totalnya. Ironisnya, kini mulut yang dulu menghujat nama Yesus, menjadi mulut yang paling gigih mewartakan-Nya. Lelaki yang dulu memburu para pengikut Kristus, kini berjalan ribuan mil lebih jauh justru untuk merangkul bangsa-bangsa non-Yahudi dan membawa mereka kepada Kristus. Paulus sendiri merangkum perubahan hidupnya yang drastis ini dengan indah dalam suratnya:
“Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, … Sebaliknya, justru karena inilah aku dikasihani, yaitu supaya di dalam diriku sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya.” (1 Timotius 1:13, 16a)

TAHUKAH KAMU?

Status Paulus sebagai warga negara Romawi adalah “kartu AS”-nya. Ini memberinya hak istimewa untuk bepergian dengan lebih aman ke seluruh kekaisaran dan melindunginya dari hukuman sewenang-wenang. Sebuah anugerah yang Tuhan pakai untuk melancarkan misi penyebaran Injil.

Sang Rasul dengan Pedang, dan Surat-Suratnya

Dalam banyak seni dan lukisan, Santo Paulus sering digambarkan memegang pedang. Ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol dengan dua makna yang menusuk kalbu: Pedang Roh: Pedang melambangkan Firman Tuhan (Efesus 6:17). Inilah senjata utamanya. Dengan kata-kata yang tajam dan penuh hikmat dari Kitab Suci, ia berdebat dengan para filsuf, menguatkan jemaat, dan menembus hati yang paling keras sekalipun. Pedang Kemartiran: Tragisnya, pedang juga menjadi alat yang mengakhiri hidupnya. Karena ia warga negara Romawi, ia tidak disalibkan seperti Petrus. Sebaliknya, ia menerima hukuman mati yang lebih “terhormat” pada masanya: dipenggal dengan pedang di Roma atas perintah Kaisar Nero. Warisan terbesarnya bukanlah kisah heroiknya, melainkan surat-surat (epistola) penuh gairah yang ia tulis untuk gereja-gereja yang ia rintis. Surat-surat inilah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Perjanjian Baru, terus membentuk iman jutaan manusia hingga detik ini.

Cermin untuk Jiwa Kita

Kisah Paulus adalah bukti hidup bahwa tidak ada seorang pun yang terlalu rusak untuk diperbaiki, tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk ditebus. Ia adalah pengingat abadi bahwa kasih Tuhan mampu menjangkau musuh yang paling keras sekalipun dan mengubahnya menjadi sahabat yang paling setia.

Untuk direnungkan: Pernahkah kamu mengalami “jalan menuju Damsyik” dalam hidupmu? Sebuah momen, sebuah peristiwa, atau sebuah kesadaran yang membuatmu berhenti dan berbelok arah? Kisah Santo Paulus meyakinkan kita, bahwa setiap orang selalu memiliki kesempatan kedua untuk menulis babak baru dalam hidupnya.

Go to Top