Katekese Jumat Agung
Apa itu Jumat Agung? Mengapa memakai kata “agung”?
Jumat Agung adalah peringatan sengsara, penyaliban, dan wafatnya Tuhan Yesus Kristus di kayu salib di Bukit Golgota. Hari Jumat ini menjadi bagian dari peringatan Pekan Suci yang diawali dengan Minggu Palma dan diakhiri dengan Minggu Paskah.
Secara etimologis, kata “agung” dalam Jumat Agung merujuk pada kesucian dan keagungan peristiwa yang diperingati. Selain itu, Jumat Agung menyandang kata “agung” karena peristiwa yang diperingati dianggap sebagai momen puncak dari penderitaan dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus demi penebusan dosa umat manusia.
Adakah sebutan lain untuk Jumat Agung dan apa maknanya?
Dalam Bahasa Inggris, Jumat Agung disebut Good Friday. Meski kata “good” dalam bahasanya sendiri berarti bagus dan baik, namun mengandung arti keistimewaan hari Jumat yang dimaksud karena memperingati wafat Tuhan Yesus.
Selain itu, ada dugaan bahwa Good Friday dalam Bahasa Inggris sebenarnya berasal dari God’s Friday yang berarti “hari Jumatnya Tuhan”. Ada juga yang mengatakan bahwa pada zaman dahulu, kata “good” dapat bermakna kudus, suci, atau “holy”; sehingga seperti Holy Thursday dan Holy Saturday, demikian juga Holy Friday = Good Friday.
Apa warna liturgi yang digunakan Gereja Katolik pada hari Jumat Agung?
Gereja Katolik menggunakan warna liturgi merah pada hari Jumat Agung, untuk mengenang sengsara dan kemartiran Tuhan Yesus Kristus.
Kasula berwarna merah yang imam pakai menjadi tanda kemartiran Sang Martir Utama, Yesus Kristus.
Mengapa tidak ada Perayaan Ekaristi pada hari Jumat Agung?
Satu-satunya hari dalam seluruh tahun liturgi Gereja Katolik tanpa adanya Perayaan Ekaristi atau Misa Kudus adalah Jumat Agung. Hal ini bertujuan untuk ikut serta dalam momen sengsara dan wafat Kristus.
Khusus hari ini, Gereja mempersatukan dirinya dengan kurban Kristus di atas salib-Nya, di mana Ia memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk kita.
Suasana Jumat Agung bukan suasana dukacita, melainkan suasana kontemplasi penuh cinta kepada Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya bagi umat manusia. Rasa cinta serta syukur inilah yang mendorong kita untuk ikut solider.
Bersama umat lain, kita menyambut Komuni Kudus dari Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasikan pada hari Kamis Putih.
Bagaimana cara memperingati hari Jumat Agung?
Pagi hari:
Gereja Katolik mengadakan ibadat Jalan Salib untuk mengenangkan Jalan Salib Tuhan Yesus Kristus. Jalan salib disebut juga via crucis (jalan salib) atau via dolorosa (jalan penuh derita).
Sore hari:
Tepat pada pukul 15.00, Gereja Katolik memperingati wafat Tuhan Yesus Kristus dengan memulai Ibadat Jumat Agung.
Selain itu, sesuai dengan tradisi iman Gereja Katolik, Jumat Agung juga menjadi hari puasa dan pantang terakhir dalam Masa Prapaskah. Kedua hal ini hendaknya bukan sekadar ritual, tetapi sebagai bentuk solidaritas dengan penderitaan Kristus dan sebagai sarana melatih pengendalian diri.
Bagaimana bentuk Ibadat Jumat Agung?
Ibadat Jumat Agung terdiri dari tiga tahap:
1. Ibadat Sabda: pembacaan Kitab Suci yang dipuncaki dengan Passio (kisah sengsara Yesus Kristus yang biasanya dinyanyikan), dilanjutkan dengan homili singkat, dan diakhiri dengan Doa Umat Meriah.
2. Ibadat Penghormatan Salib: ungkapan syukur atas penebusan Tuhan Yesus Kristus dengan mencium salib sebagai tanda penghormatan kepada salib-Nya.
3. Ibadat Komuni Kudus: penerimaan Tubuh dan Darah Kristus sebagai buah salib, yakni penebusan dan persatuan dengan diri-Nya yang dipersembahkan di altar Golgota.
Mengapa imam tidak membuka dan mengakhiri Ibadat Jumat Agung dengan tanda salib?
Saat mengawali Ibadat Jumat Agung, kita memperingati Yesus Kristus yang sengsara hingga wafat di kayu salib. Pada peristiwa ini, salib masih merupakan tanda hukuman, kehinaan, dan kebinasaan.
Saat mengakhiri Ibadat Jumat Agung, kita masih belum merayakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Maka, imam beserta umat tidak membuat tanda salib.
Pada Malam Vigili Kebangkitan Kristus, saat Tuhan Yesus mengubah salib menjadi tanda keselamatan melalui kebangkitan-Nya, dengan mulia dan meriah umat kembali membuat tanda salib. Inilah momen salib menjadi tanda keselamatan pemberian Tuhan.
Petunjuk praktis memperingati Jumat Agung
Pertahankan kesunyian dan keteduhan dalam hati dan jiwa setelah pulang dari gereja. Biarkan keheningan total (silentium magnum) menyertai hari ini.
Dianjurkan untuk tidak memutar musik, acara televisi, atau hiburan lainnya. Sepanjang hari ini, di gereja pun tidak diperdengarkan iringan musik maupun bunyi lonceng.
Ambillah waktu untuk berdoa, khususnya Novena Kerahiman Ilahi yang dimulai pada hari ini. Doakan pula jiwa-jiwa di api penyucian dan keluarga yang telah meninggal dunia.
Ambillah waktu untuk membersihkan salib, patung, dan benda-benda rohani di rumah. Pada malam hari, kurangi penerangan lampu dan nyalakan lampu yang lebih terang di sekitar salib Tuhan.
Makna Jumat Agung
Pengorbanan dan kasih Allah bagi umat manusia, yang rela mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menderita sengsara dan wafat di kayu salib.
Penebusan dosa manusia melalui wafat Kristus, sehingga setiap orang yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat beroleh pengampunan dosa dan kehidupan kekal.
Panggilan untuk mengampuni sesama sebagai wujud syukur atas kasih Allah yang luar biasa.
Solidaritas dengan penderitaan sesama sebagai bentuk kesatuan dengan penderitaan Kristus.
Pengharapan akan kebangkitan, karena kebangkitan Kristus menjadi jaminan hidup kekal bagi umat beriman.
Pembaharuan diri menuju hidup yang lebih bermakna melalui pertobatan sejati dan relasi yang semakin akrab dengan Tuhan dan sesama.
Sumber:
1. Romo Terry Ponomban Pr & Tim Komkat Keuskupan Manado, Sesawi.net: “Memahami Trihari Suci: Jumat Agung Tanpa Tanda Salib dan Perayaan Ekaristi (2)”, 10 April 2020
https://www.sesawi.net/memahami-trihari-suci-jumat-agung-tanpa-tanda-salib-dan-perayaan-ekaristi-2/
2. Geograf.id, “Pengertian Jumat Agung: Definisi dan Penjelasan Lengkap Menurut Ahli”, 12 Oktober 2023
https://geograf.id/jelaskan/pengertian-jumat-agung/
3. Eka Agus, Kuttabdigital.com, “Apa itu Jumat Agung? Makna Mendalam bagi Umat Katolik”, 12 Maret 2025
https://kuttabdigital.com/apa-itu-jumat-agung-pengertian-dan-maknanya-bagi-umat-katolik/
4. Dr. Petrus Maria Handoko CM, Dari Pra Sampai Paskah, Penerbit Dioma, 2014
