Tujuan Lahan di Prinsenlaan No. 26
Dalam slide “Cikal Bakal Paroki” edisi kelima lalu, ada info setelah Paroki diresmikan, Pastor Leo Zwaans merencanakan membangun gedung gereja di Jalan Prinsenlaan no. 26. Hal ini juga diperkuat oleh sebuah artikel di Majalah Kontak edisi Januari 1981. Sayangnya, rencana itu tidak terwujud.
Selain karena situasi yang lalu berubah menjadi Perang Dunia II dan pastor-pastor Belanda diinternir, rencana ini juga tidak mendapat sambutan yang baik. Akhirnya lahan di Jalan Prinsenlaan itu ditujukan untuk lokasi Gedung Pastoran. Kondisi ini berlangsung dari tahun 1946 hingga tahun 1950.
Kerepotan yang Terjadi
Saat itu, “Gereja Darurat” Pertama di pendopo Sekolah Boedi Moelia (Jl. Prinsenlaan no. 135) tetap dipertahankan sebagai tempat mengadakan Misa Kudus. Namun dalam perkembangannya, dua lokasi yang berbeda untuk Gereja (Prinsenlaan no. 135) dan Gedung Pastoran (Prinsenlaan no. 26) menimbulkan berbagai kerepotan. Khususnya bagi pastor yang mengadakan misa.
Iya juga yah, apalagi di masa sebelum 1950, akses belum semodern sekarang. Lantas, gimana solusinya?
Pembangunan “Gereja Darurat” Kedua
Akhirnya dengan bantuan dari PGDP (Pengurus Gereja Dana Papa) Katedral diputuskan untuk membangun “Gereja Darurat” Kedua di sekitar halaman Gedung Pastoran itu. Terbuat dari tiang kayu, dinding tembok setengah batu, dan atap genteng.
Pembangunan dimulai sekitar 1 Maret 1950, dengan dana pinjaman 60.000 gulden dari PGDP. Tuan Lie Soen Giap, pemilik Biro Arsitek dan Pemborong Bangunan “ELKA”, bertindak selaku pelaksana pembangunan “gereja darurat” kedua ini.
Dengan biaya segitu dan pakai jasa sebuah biro, kapan selesainya “gereja darurat” ini ya?
Pemberkatan “Gereja Darurat” Kedua dan Sebuah Tawaran
Pembangunan berlangsung cepat karena memang kebutuhan akan tempat ibadah besar dengan bertambahnya jumlah umat. Pada hari Minggu, 16 Juli 1950, Mgr. Willekens memberkati “Gereja Darurat” Kedua yang sudah berdiri.
Di tahun yang sama, juga ada rencana untuk membangun gereja permanen di situ. Namun kali ini, sebuah tawaran menarik membatalkannya.
Di manakah kira-kira letak “Gereja Darurat” Kedua ini? Tawaran apa yang membatalkan rencana pembangunan gereja permanen di situ?
Melacak Jejak
Ibu Mira, pemilik King’s Barber Shop di Jl. Mangga Besar Raya no. 26; Bapak Budi, pegawai Bea Cukai di Jl. Mangga Besar Raya no. 26. Kedua narasumber itu memberikan keterangan letak kira-kira “gereja darurat kedua” saat sesi wawancara. Kedua gedung itu (barbershop dan bea cukai) berdiri berdampingan di alamat yang sama.
Jadi penasaran nih apa kata mereka. Kamu juga?
Kata Mereka
Keduanya sepakat:
“Setelah memakai gedung HCS (Sekolah Boedi Moelia – lebih tepatnya di pendopo), gereja sebagai tempat ibadah pindah ke daerah Prinsenlaan no. 26. Posisi yang lebih ke arah Barat, di dekat kali beton atau Gang Sumur Bor.”
Kebanyakan warga kini menyebut Jl. Mangga Besar no. 26 itu sebagai Gang Sumur Bor. Ada info lain lagi dari mereka berdua?
Info Tambahan
Karena adanya bangunan gereja di kompleks no. 26, tanah di sekitarnya juga dinamai Gang Gereja. (keterangan Ibu Mira) Lahan itu kini sudah menjadi kompleks ruko dan perkantoran (tidak ada jejak lagi bangunan gereja). Pihak gereja sudah menjual area yang memakai nomor 26 hingga nomor 30 (Rumah Makan Padang “Sederhana”), sehingga kepemilikannya sudah berpindah tangan lebih dari 1 kali. (keterangan Pak Budi)
Lantas, masih ada info lain seputar “Gereja Darurat” Kedua ini?
Kapasitas “Gereja Darurat” Kedua
“Gereja Sementara” kedua dapat menampung sekitar 900 orang. Umat yang hadir tersebar dari wilayah: Mangga Besar, Toasebio, Jembatan Tiga, dan bahkan Tangerang. Saat itu, Paroki Mangga Besar masih melayani umat daerah Tangerang sampai tahun 1955.
Wow, kapasitasnya jauh melebihi “Gereja Darurat” Pertama yang sekitar 500 orang! Jadi penasaran, apa ada cerita lain lagi dari gereja sementara di pendopo HCS itu?
Nantikan: “Gereja Darurat” Pertama & Sekolah Santo Yoseph (1950-an)
Edisi pekan depan bakal menjawab pertanyaan di akhir slide yang tadi. Perkembangan umat “Gereja Darurat” Pertama akan berhubungan dengan karya misi untuk etnis Tionghoa di Sekolah Santo Yoseph. Kira-kira apa yah?
Lalu, soal tawaran menarik di akhir slide “Pemberkatan Gereja Darurat Kedua” bakal terjawab di sekitar edisi 2 atau 3 pekan berikutnya.
Sumber rangkaian Edisi Spesial:
Buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar – Jakarta Barat (3 Januari 2020)
Tanpa terasa, pemakaian GKP (Gedung Karya Pastoral) sebagai “gereja sementara” Paroki Mangga Besar terhitung sudah lebih dari 3 bulan. Bagi umat yang rutin datang minimal misa mingguan pasti sudah terbiasa. Tentu ada suka duka dalam menjalani Misa Kudus di kedua gedung berlantai 4 (lobi dan lantai 1-3) ini, khususnya saat kebagian di ruangan yang bukan Aula GKP Petrus sebagai ruangan utama.
Para petugas liturgi dan imam (romo) juga punya cerita sendiri. Kesulitan dan tantangan di gedung yang sudah modern dan canggih (lift di GKP Petrus) tentu belum seberapa kalau mau dibandingkan dengan kerepotan yang terjadi antara tahun 1946 sampai tahun 1950 lalu. Bayangkan, di masa itu lokasi Misa dan gedung Pastoran terpisah jarak cukup jauh meski sama-sama berada di Jl. Mangga Besar Raya! (slide “Kerepotan yang Terjadi”)
Jadi kerepotan ketika terjadinya sebuah proses transformasi besar sudah Paroki Mangga Besar alami selama berkali-kali. Di balik tantangan itu, ada hal yang menggugah hati kita sebagai umat beriman: kapasitas “Gereja Darurat” Pertama sekitar 500 orang menjadi sekitar 900 orang sebagai kapasitas “Gereja Darurat’ Kedua (slide “Kapasitas…”). Belum lama ini, kuotanya sudah jauh lebih besar lagi di gedung permanen gereja pertama, yang sudah menjadi sejarah. Semoga Edisi Spesial kali ini juga mampu mengobarkan semangat hidup dan berkarya kita semua, tidak hanya sekadar menginspirasi saja.
