Sosok Pengganti Pastor Edwards Cappers
Pastor Leo Michael Ignatius Marie Zwaans, SJ semula berkarya di kota Semarang. Di sana beliau juga merasul untuk kalangan etnis Tionghoa.
Pada tahun 1938 di kota Batavia, terjadi pergantian pastor untuk kerasulan bagi umat etnis ini. Karena umat di daerah Kemakmuran membutuhkan paroki, maka Pastor Edwards Cappers pindah ke sana. Sebagai penggantinya, Pastor Leo Zwaans yang menggantikan beliau mengurusi komunitas umat Tionghota di daerah calon Paroki Mangga Besar.
Satu “misteri” di edisi pekan lalu terjawab juga ya. Gimana dengan “misteri” yang satunya lagi?
Sejarah Berhasil Membuktikan Visi?
Pastor Vikaris Apostolik Batavia ke-6 (periode: 3 Oktober 1934 -1952) yang bernama Peter J. Wilekens, SJ pernah memberi amanat:
“Gereja pembantu (stasi) itu harus berkembang menjadi Gereja berdikari, Gereja berbahasa Melayu yang pertama…”
Ternyata visi dari Pastor Vikaris Apostolik untuk Stasi Mangga Besar meleset. Akan tetapi, sejarah tetap mendukungnya meski berjalan merangkak.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Situasi Sulit Akibat Penjajahan Jepang
Sejarah mencatat:
- Jepang menguasai Batavia sejak tanggal 5 Maret 1942, dan
- Sejak saat itu mereka menangkap dan menahan para pastor asal Belanda di kamp interniran milik Dai Nippon.
Situasi genting ini berlangsung hingga 15 Agustus 1945, hari ketika bangsa Jepang akhirnya menyerah pada kekuatan Sekutu.
Oh ternyata karena situasi penjajahan bangsa Jepang. Gimana situasi persisnya ya?
Situasi Karya Misi di Batavia
Di seluruh kota Djakarta, selama tahun 1943 sampai 1945, hanya Pastor Leo Zwaans saja yang tinggal bersama Bapa Uskup. Sang pastor bahkan tidak diizinkan mengadakan Misa Kudus di Gereja Katedral.
Romo B. Soemarmo, SJ sebagai pastor Jesuit pertama asal Indonesia tentu bisa bergerak dengan leluasa. Di tahun pertama (1943), sang pemimpin umat Paroki Katedral ini mendapat tugas untuk melayani umat Katolik dari Kampung Sawah hingga Mangga Besar. Sebagai pastor rekan Mgr. Peter J. Wilekens, SJ (Vikaris Apostolik Batavia saat itu), beliau memang diperbantukan untuk mengadakan Misa Kudus di Stasi Mangga Besar.
Berat juga ya bertahan untuk rutin Misa waktu itu. Apa semua umatnya pasrah saja?
Ketika Kaum Awam Ikut Peduli dan Mau Bergerak
Akhirnya sejumlah tokoh Tionghoa awam tergerak untuk ikut membantu karya penggembalaan yang kekurangan pastor. Berkat usaha dan perjuangan mereka, Misa Kudus berhasil diadakan setiap 2 bulan.
Tidak hanya itu saja, mereka juga membuat Ibadat Sabda tiap minggunya untuk memuaskan iman dan kerohanian umat. Belakangan, terbentuklah PGDP dari beberapa kaum awam yang rela terjun dalam pelayanan Gereja di masa serba sulit ini.
Wow keren! Jadi penasaran ingin tahu siapa saja mereka itu?
Mereka yang Terpanggil
Termuat dalam Majalah Kontak edisi No. 01 Tahun 1981, tertulis nama-nama:
- Joseph Lo Siauw Sien sebagai pemimpin umum, administrasi, dan keuangan;
- Andreas Auw Jong Peng Koen sebagai pengurus ibadat dan pelajaran agama;
- Bapak Poedjowijatno dan Tan Jan Djwan sebagai rekan kerja Jong Peng Koen;
- Nyonya Yap sebagai pengurus paduan suara;
- Johanes Tan Giok Sie sebagai pengurus gedung dan kunjungan rumah.
Bersama dengan Bapak Poedjowijatno dan Bapak Tan Jan Djwan, Petrus Kanisius Ojong/PK Ojong (Jong Peng Koen) mengisi Ibadat Sabda setiap minggu secara bergantian.
Oh, Bapak PK Ojong yang kemudian memulai Harian Kompas ya. Beliau memang keren! Lalu, cerita selanjutnya?
Perkembangan di Tahun 1947
Sejak tahun 1947, “Gereja Darurat” pertama di pendopo Sekolah Boedi Moelia menambah jumlah misa dalam Bahasa Indonesia. Terdorong oleh jumlah umat yang berbahasa nasional kian bertambah. Hal ini membawa konsekuensi besar serta tantangan yang sulit bagi komunitas umat berbahasa Mandarin.
Menghadapi hal ini, Romo Agustinus Phan Liang Ching, Pr sampai harus memberitahukannya kepada Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ.
Apa konsekuensi besar dan tantangan sulit itu bagi umat Mandarin ya?
Nantikan: Menuju Babak Baru “Gereja Darurat”
Edisi pekan depan bakal menjawab pertanyaan di akhir bagian sebelumnya. Ternyata, makin banyaknya umat Katolik membawa angin baru bagi sejarah “Gereja Darurat” pertama Stasi Mangga Besar. Apa saja langkah Pastor Leo Zwaans, SJ setelah kemerdekaan Indonesia?
Sumber rangkaian Edisi Spesial:
Buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar – Jakarta Barat (3 Januari 2020)
Hari Minggu di pekan depan tepat 17 Agustus 2025 loh, temans. Sesuai tradisi sejak sekian tahun terakhir, paroki kita akan mengadakan upacara bendera sehingga Misa pukul 07.30 ditiadakan. Misa pukul 10.00 menjadi Misa Peringatan Kemerdekaan RI. Yuks catat tanggalnya, dan ayo ikut ramaikan dengan semangat nasionalisme yang kamu punya.
Nah, Edisi Spesial pekan depan akan menceritakan langkah terbesar Stasi Mangga Besar setelah kemerdekaan Indonesia. Pas banget ya waktunya? Sebelum itu, enjoy dulu Edisi Spesial kali ini yang kamu sedang lihat. Edisi yang bahas masa sulit sebelum kemerdekaan; yups apalagi kalau bukan masa bangsa kita dijajah oleh bangsa Jepang.
Bangsa Asia Timur ini memang terkenal kejam, apalagi kalau memperlakukan orang-orang Belanda. Tak terkecuali para pastor yang tadinya berkarya dengan bebas dan leluasa di kota Batavia. Simak saja 2 bagian yang punya judul “Situasi”. Tapi apa umat saat itu gampang nyerah atau pasrah begitu saja?
Sama seperti para pejuang atau pahlawan bangsa saat itu, mereka tidak menyerah. Kurang dan terbatasnya ruang gerak pastor (dari bahasa Eropa) atau Romo (Bahasa Jawa) membuat kaum awam bangkit dan berjuang. Salah satunya seorang pendiri koran nasional yang akhirnya menjadi grup media Kompas-Gramedia. Kalau mau tahu siapa dia, cek bagian “Mereka yang Terpanggil”.
