Skip to content Skip to footer

Sakramen Perkawinan

Perjanjian Kasih yang Kudus dan Tak Terputuskan

Sakramen Perkawinan adalah sakramen di mana seorang pria dan seorang wanita, yang telah dibaptis, mengikatkan diri dalam perjanjian kasih yang sah dan kudus di hadapan Allah dan Gereja. Dalam sakramen ini, cinta manusia diangkat menjadi tanda nyata kasih Kristus kepada Gereja-Nya.

Perkawinan bukan sekadar kontrak sosial atau pesta adat. Ini adalah perjanjian seumur hidup, disahkan oleh Allah sendiri.

Hakikat Sakramen Perkawinan

Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan memiliki tiga sifat utama yang tidak dapat ditawar:

  1. Monogam
    Perkawinan hanya antara satu pria dan satu wanita.
  2. Tak terceraikan
    Ikatan perkawinan sah tidak dapat diputuskan oleh siapa pun selain maut.
  3. Terbuka terhadap kehidupan
    Perkawinan terbuka untuk menerima dan mendidik anak sebagai anugerah Allah.

Inilah fondasi klasik Gereja—kokoh sejak dulu, relevan sampai hari ini.

Isi Sakramen Perkawinan

Sakramen Perkawinan bukan hanya satu momen di altar, tetapi rangkaian makna dan komitmen yang hidup sepanjang pernikahan.

  1.  Janji Nikah (Kesepakatan Perkawinan)
    Inti dari Sakramen Perkawinan adalah janji bebas dan sadar antara mempelai pria dan wanita. Merekalah pelayan sakramen ini; imam bertindak sebagai saksi resmi Gereja.

    Janji ini mencakup:
    – Kesetiaan seumur hidup
    – Kesediaan saling mencintai dalam suka dan duka
    – Kesanggupan membangun keluarga Kristiani

    Janji ini bukan basa-basi. Sekali diucapkan, ia mengikat seumur hidup.
  2. Pemberkatan Gereja
    Gereja, melalui imam, memberkati ikatan perkawinan tersebut dan memohon rahmat Allah agar pasangan mampu menjalani panggilan hidup berkeluarga.

    Doa Gereja menegaskan bahwa perkawinan:
    – Dikuatkan oleh rahmat ilahi
    – Dilindungi dalam kesetiaan
    – Diberkati untuk menjadi saksi kasih Allah di tengah masyarakat
  3. Penyatuan Kasih dalam Kristus
    Dalam Sakramen Perkawinan, cinta manusia tidak dihapus, tetapi disempurnakan. Kasih suami-istri dipersatukan dengan kasih Kristus—kasih yang setia, rela berkorban, dan tidak meninggalkan.

    Perkawinan Katolik bukan tentang dua orang yang sempurna, melainkan dua orang yang mau bertumbuh bersama dalam rahmat.
  4. Tanggung Jawab terhadap Keluarga
    Sakramen ini memanggil pasangan untuk:
    – Membangun keluarga sebagai Gereja rumah tangga
    – Mendidik anak-anak dalam iman Katolik
    – Menjadi teladan kasih, kesabaran, dan pengampunan

    Keluarga bukan sekadar tempat tinggal—ia adalah tempat iman dilahirkan.

Peran Imam dan Gereja

Dalam Sakramen Perkawinan:

  • Mempelai adalah pelayan sakramen
  • Imam adalah saksi resmi Gereja
  • Gereja adalah penjamin dan pendamping

Karena itu, persiapan perkawinan menjadi bagian penting, bukan formalitas belaka. Kursus persiapan perkawinan membantu calon pasangan memahami bahwa cinta sejati butuh komitmen, doa, dan kerja keras

Sakramen Perkawinan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sakramen Perkawinan tidak berhenti saat Misa selesai. Ia hidup:

  • Saat pasangan saling mengampuni
  • Saat setia di tengah godaan
  • Saat tetap bertahan di tengah kesulitan
  • Saat mendidik anak dengan kasih dan iman

Di situlah sakramen ini benar-benar bekerja.


Penutup

Sakramen Perkawinan adalah panggilan untuk mencintai dengan cara Allah mencintai: setia, total, dan tanpa syarat. Di tengah dunia yang mudah menyerah, Gereja tetap berdiri pada kebenaran bahwa cinta sejati bukan tentang rasa, tetapi tentang pilihan yang dihidupi setiap hari.

Leave a comment

Go to Top