Panggilan untuk Melayani, Bukan untuk Ditinggikan
Sakramen Imamat adalah sakramen di mana seorang pria dipanggil dan ditahbiskan oleh Gereja untuk melayani umat Allah secara khusus. Melalui tahbisan suci, ia mengambil bagian dalam imamat Kristus sendiri—bukan sebagai pemilik kuasa, melainkan sebagai pelayan kasih.
Imamat bukan jabatan karier.
Ini panggilan hidup.
Sejak zaman para rasul, Gereja meyakini bahwa Kristus sendiri memilih, memanggil, dan mengutus para pelayan-Nya untuk menggembalakan umat, mewartakan Sabda, dan melayankan sakramen-sakramen.
Apa Itu Sakramen Imamat?
Sakramen Imamat (Tahbisan Suci) adalah sakramen yang memberi kuasa rohani dan rahmat khusus kepada seseorang untuk menjalankan pelayanan Gereja. Melalui sakramen ini, Kristus terus hadir dan bekerja di tengah umat-Nya.
Dasarnya bersumber langsung dari Yesus sendiri:
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan menetapkan kamu.”
(Yohanes 15:16)
Panggilan ini bukan hasil ambisi pribadi, melainkan jawaban atas undangan Allah.
Tingkatan Sakramen Imamat
Gereja Katolik mengenal tiga tingkatan Sakramen Imamat, yang masing-masing memiliki peran berbeda namun saling melengkapi:
- Diakon
Diakon dipanggil untuk melayani—terutama dalam pewartaan Sabda, pelayanan kasih, dan liturgi tertentu. Diakon menjadi tanda bahwa Gereja pada hakikatnya adalah pelayan. - Imam (Presbiter)
Imam adalah rekan kerja uskup dalam menggembalakan umat. Imam melayankan Ekaristi, Sakramen Tobat, Pengurapan Orang Sakit, dan membimbing umat dalam kehidupan rohani sehari-hari.
Imam hadir di altar, di ruang pengakuan, dan di tengah umat. - Uskup
Uskup menerima kepenuhan Sakramen Imamat. Ia adalah penerus para rasul dan penjamin kesatuan Gereja di keuskupannya. Dari tangan uskuplah sakramen-sakramen utama dilayankan.
Tanda dan Makna Tahbisan Imamat
Tahbisan Imamat dirayakan dengan tanda-tanda liturgis yang kaya makna:
- Penumpangan tangan oleh uskup
Tanda pewarisan Roh Kudus dan kesinambungan apostolik. - Doa tahbisan
Doa Gereja yang memohon rahmat Allah bagi pelayan yang ditahbiskan. - Pemakaian pakaian liturgis
Menandai tugas dan tanggung jawab pelayanan suci.
Tahbisan ini memberi meterai rohani yang kekal dan tidak dapat diulang.
Makna Rohani Sakramen Imamat
Melalui Sakramen Imamat, Gereja menerima rahmat bahwa:
- Kristus tetap hadir sebagai Gembala umat-Nya
- Sakramen-sakramen terus dilayankan dengan sah
- Umat dibimbing dalam kebenaran iman
Imamat bukan tentang kesempurnaan pribadi, melainkan tentang kesetiaan dalam pelayanan.
Hidup Imamat dalam Kehidupan Sehari-hari
Seorang imam dipanggil untuk:
- Hidup dalam doa dan kesederhanaan
- Melayani tanpa pamrih
- Menjadi saksi kasih Kristus bagi semua orang
Ia manusia biasa, tetapi dipakai Allah untuk karya luar biasa.
Penutup
Sakramen Imamat adalah tanda bahwa Allah tidak meninggalkan Gereja-Nya. Melalui para pelayan yang rapuh namun dipanggil, Kristus terus hadir, menyapa, dan menyelamatkan.
Imamat bukan tentang berdiri lebih tinggi,
melainkan berlutut lebih rendah.
Di situlah pelayanan sejati menemukan maknanya.
