Berdirinya Paroki Mangga Besar
Paroki Mangga Besar resmi berdiri pada tanggal 3 Januari 1940 dengan mengambil nama 2 rasul besar dalam Gereja Katolik. Santo Petrus dan Santo Paulus yang dianggap sebagai pilar utama Gereja menjadi nama paroki sekaligus 2 santo pelindung.
Momen apa saja yang menjadi sejarah awal Paroki Mangga Besar ya?
3 Orang Pastor Luar Indonesia Berikutnya
Setelah kemerdekaan RI, pada tahun 1946, Pastor Leo Zwaans diangkat menjadi pastor kepala Paroki Mangga Besar. Lalu datanglah 3 orang pastor asal luar Indonesia:
- Pastor Wilhelmus Krause Van Eeden, SJ (Belanda) di tahun 1947,
- Pastor Laurentius Van der Werf, SJ (Belanda) di tahun 1947,
- Pastor Conradus Braunmandl, SJ (Austria) di tahun 1949.
Sejak awal tahun 1947, Pastor Krause menjadi pastor rekan Pastor Leo Zwaans untuk berkarya di Paroki Mangga Besar.
Jadi kebutuhan imamat waktu itu masih didominasi pastor asal Eropa?
Romo Agustinus Phan Liang Ching, Pr Sejak 1952
Seorang imam kelahiran Aceh yang datang dari daratan China ke Jakarta pada tahun 1952. Menurut Romo Sutopranito, Pr (pastor paroki Katedral), beliau terpaksa lari dari RRC (China) karena negara itu sedang dikuasai oleh rezim komunis.
Karena sudah ditahbiskan di Hongkong pada tanggal 6 Juli 1952, beliau diterima sebagai Imam Diosesan untuk KAJ. Atas undangan dari Mgr. Peter J. Willekens, SJ juga. Sejak tanggal 24 Juli 1952, beliau melayani komunitas umat Mandarin di Paroki Mangga Besar.
Gimana kondisi umat di daerah Paroki Mangga Besar waktu itu?
Umat Paroki Setelah Tahun 1945 dan Tantangannya
Umat beriman Katolik Paroki Mangga Besar pada tahun 1948 berjumlah sekitar 1.200 orang. Sebagian besarnya dari etnis Tionghoa, suku Flores, dan suku Timor.
Faktor kesulitan berbahasa membuat karya pewartaan hanya dilakukan di antara umat Tionghoa yang bisa berbahasa Melayu. Kondisi penuh tantangan ini berlangsung sampai kedatangan para pastor Jesuit yang terusir dari RRC di tahun 1949 hingga 1952 tadi.
Jadi sebenarnya, siapa saja para imam yang melayani komunitas umat Mandarin ya?
Para Imam Khusus Umat Berbahasa Mandarin (part 1)
- Pastor Conradus Braunmandl, SJ (Austria) yang fasih berbahasa Mandarin. Beliau melayani umat Mandarin sejak tanggal 10 Februari 1949;
- Pastor Agustinus Phan Liang Ching, Pr yang sejak 24 Juli 1952 meneruskan karya misi Pastor Conradus Braunmandl;
- Pastor Carolus Staundinger, SJ (Austria) yang juga datang di tahun 1950 karena terusir dari RRC;
Para Imam Khusus Umat Berbahasa Mandarin (part 2)
- Pastor Antonius Loew, SJ yang datang bersama Pastor Carolus Staundinger dan Pastor Joannes Zheng Zhao Ming di tahun 1950;
- Pastor Joannes Zheng Zhao Ming yang datang bersama Pastor Carolus Staundinger dan Pastor Antonius Loew di tahun 1950;
- Pastor Matthias Leitenbauer, SJ (alias “Lei Sinfu”) yang datang di tahun 1954.
Bikin penasaran nih, apa saja karya misi mereka di Jakarta?
Karya Misi (1) Untuk Komunitas Etnis Tionghoa
Trio pastor SJ asal Eropa merintis gereja, sekolah, dan asrama untuk kaum Hoakiauw (Tionghoa perantauan) di Jakarta yang mendapat tugas dari Mgr. Willekens selaku Vikaris Apostolik-Jakarta. Mereka adalah Pastor Leo Zwaans, Pastor Conradus Braunmandl, dan Pastor Carolus Staundinger.
Kira-kira sekolah dan asrama macam apa ya karya misi mereka?
Karya Misi (2) Untuk Komunitas Etnis Tionghoa
Mgr. Willekens membeli sebidang tanah di daerah “Pecinan” agak utara (Komplek Toasebio) untuk mendirikan paroki baru. Lalu Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ selaku Bapa Uskup KAJ yang pertama menugaskan Pastor Wilhelmus Krause untuk berkarya di sana.
Beliau dibantu Pastor Antonius Loew sebagai kepala paroki pertama dan Pastor Leitenbauer sebagai pengelola sekolahnya. Nama sekolah ini diambil dari seorang pastor SJ, Matteo Ricci.
Oh jadi karya misi yang ini akhirnya melahirkan paroki baru. Anak paroki pertama dari Paroki Mangga Besar yang bernama Paroki Santa Maria de Fatima di daerah Toasebio. Lantas, gimana kelanjutan cerita “gereja darurat” paroki Mangga Besar sendiri?
Nantikan: Menuju “Gereja Darurat” Kedua
Edisi pekan depan bakal menjawab pertanyaan di akhir slide yang tadi. Ternyata, bukan perkembangan umat “Gereja Darurat” Pertama yang menjadi pendorong mendesaknya kebutuhan akan “Gereja Darurat” Kedua. Ada sebuah situasi khusus yang menjadi pemicu, apakah itu?
Sumber rangkaian Edisi Spesial:
Buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar – Jakarta Barat (3 Januari 2020)
Wikipedia Gereja Santa Maria de Fatima – Toasebio :
https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Santa_Maria_de_Fatima,_Toasebio#Sejarah
Sebentar lagi 1 bulan khusus untuk perayaan 80 tahun Kemerdekaan RI usai sudah. Kita pantas bersyukur juga atas terlaksananya ritus peletakkan tiang pancang pertama di area gedung gereja lama untuk dibangun gedung yang baru. Acaranya persis di tanggal spesial bagi semua warga Indonesia. Cuaca panas menyengat menyambut dan ikut mendukungnya.
Kita berharap dan berdoa, semoga kesuksesan peletakkan tiang pancang pertama yang lalu bisa menjadi angin segar bagi pembangunan gedung gereja baru bagi Paroki Mangga Besar. Seperti halnya di masa lalu, resminya Paroki Mangga Besar ternyata mampu membawa angin segar. Sekitar setengah lusin pastor datang dari luar Indonesia untuk berkarya bagi Paroki Mangga Besar dan umat di daerah sekitarnya. Edisi Spesial kali ini didedikasikan untuk mereka beserta semua jasa yang sudah diberikan di masa lalu.
Berhubung umat daerah Mangga Besar kebanyakan dari etnis Tionghoa (cek bagian “Umat Paroki…”), maka sejumlah imam khusus terjun untuk mereka yang berbahasa Mandarin. Silakan mampir ke 2 bagian “Para Imam Khusus…” untuk bisa tahu siapa saja mereka dan berapa orang jumlahnya. Bahkan, sebuah karya misi dalam spesifikasi ini berhasil membuahkan “anak paroki” dari Paroki Mangga Besar loh. Kalau kamu penasaran parokinya, cek bagian “Karya Misi (2)…” yang akan menjawabnya.
