Skip to content Skip to footer

Facts On Weekend Special #5: Dari Stasi Menjadi Paroki 

Bagian 2: Sejarah Awal Paroki

Mulai pekan ini, Edisi Spesial Sejarah Paroki memasuki Bagian 2 yang bertema Sejarah Awal Paroki. Bagian 1 yang berjudul Awal Mula Paroki berakhir sudah di pekan lalu dalam masa pendudukan bangsa Jepang sampai era kemerdekaan Indonesia.

Secara timeline tahunnya, sebenarnya Edisi Keempat lalu sudah menjadi Bagian 2 ini. Bagian “Berdirinya Paroki…” akan memperjelas hal ini. Di sini, dinamika karya misi Katolik di Batavia yang menjadi fokus Bagian 1, mengkategorikan tahun 1942 hingga tahun 1945 menjadi masa tantangan bagi visi komunitas Mangga Besar dari Pastor Vikaris Apostolik.

Sekilas Sejarah di Bagian 1

Sejak tahun 1932, umat Katolik di daerah Prinsenlaan (kini Mangga Besar Raya) menjadi bagian dari Paroki Katedral Batavia. Umat di Stasi Mangga Besar ini kian berkembang pesat, sehingga kebutuhan akan pelayanan rohani yang lebih intens menjadi penting.

Di tahun yang sama, Tarekat Bruder Budi Mulia membangun Sekolah HCS (Holland Chinese School yang kini Budi Mulia) di samping Rumah Sakit Husada (dahulu Rumah Sakit Yang Seng Ie). Aula sekolah ini dipakai sebagai tempat “Gereja Darurat” pertama bagi Stasi Mangga Besar sejak misa perdananya di hari Minggu, 3 Februari 1935. Bahasa Melayu mulai rutin dipakai dalam misa, mengingat umat lokal tidak bisa berbahasa Belanda dan bahasa Latin.

So, what’s next?

Perkembangan “Gereja Darurat” Pertama (1935 & 1938)

Pada tahun 1935, misa dipindahkan ke pendopo sekolah karena jumlah umat sudah mencapai sekitar 500 orang. Setiap 1 bulan, stasiun NIROM (Nederlansch Indie Radio Omroep Maatschappij) menyiarkan misa melalui radio.

Pada tahun 1938, perkembangan umat Katolik di Batavia yang semakin besar membuat terbentuknya paroki baru di daerah Kemakmuran. Maka Pastor Edwards Cappers pindah ke sana. Sebagai penggantinya, Pastor Leo Zwaans datang dari Semarang untuk umat Stasi Mangga Besar.

Apa karya pertama Pastor Leo Zwaans untuk Stasi Mangga Besar ya?

Cikal Bakal Paroki Oleh Pastor Leo Zwaans

Kebutuhan akan tempat baru mendorong Pastor Leo Zwaans membentuk semacam dana untuk pendirian gedung gereja. Dibelilah 3 kapling tanah yang berlokasi di Jalan Prinsenlaan no. 26 (di dekat kali beton atau gang sumur bor).

Niat mulia ini lalu terhalang oleh situasi yang cepat berubah sejak kedatangan bangsa Jepang dan Perang Dunia II. Pastor Belanda diinternir. Dalam masa-masa itu, muncul “rasul-rasul awam” yang sukarela membantu dalam urusan keuangan, pelayanan, pengajaran. Ibadat dipimpin Bpk Poedjowiyatno dan Tan Jan Djwan, Andreas Auwjong Pengkoen. Ada pula pengajaran dan pendalaman iman untuk pemuda-pemuda untuk “kaderisasi”.

Pendirian gedung gereja baru menjadi tertunda pelaksanaannya. Meski begitu, paroki baru sudah terbentuk. Jadi Paroki Mangga Besar sudah ada sebelum pembangunan gedung gerejanya?

Berdirinya Paroki Mangga Besar

Paroki Mangga Besar secara resmi didirikan pada tanggal 3 Januari 1940 sebagai paroki mandiri. Mengambil nama 2 rasul besar dalam Gereja Katolik yang dianggap sebagai pilar utama sebagai nama paroki sekaligus santo pelindung. Santo Petrus dan Santo Paulus.

Pendirian Gereja dikukuhkan dalam “Stichtingsbrief” yakni penetapan Yayasan Gereja Katolik dan Pengurus Kemiskinan Gereja St. Petrus dan Paulus di Batavia” (sekarang PGDP) oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Willekens SJ; P. Leo Zwaans SJ diangkat sebagai ketuanya.

Dengan status baru ini, kebutuhan akan tempat ibadah permanen menjadi semakin terasa.

Puji Tuhan, akhirnya visi dari Pastor Vikaris Apostolik terwujud menjadi kenyataan. Lalu, gimana perkembangan komunitas Mangga Besar setelah menjadi paroki?

Nantikan: Angin Segar Bagi Paroki Baru

Ternyata, status paroki baru “mendatangkan” beberapa gembala Gereja Katolik asal luar Indonesia ke Paroki Mangga Besar. Siapa sajakah mereka itu? Dan dari negara mana saja mereka berasal?

Sumber rangkaian Edisi Spesial:
Buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar – Jakarta Barat (3 Januari 2020)
Wikipedia Gereja Santo Petrus dan Paulus – Mangga Besar: https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Santo_Petrus_dan_Paulus,_Mangga_Besar#

Saat Edisi Spesial ini tayang, sudah pasti kota kita dihiasi oleh aneka pernak-pernik Dirgahayu Kemerdekaan RI serta diramaikan dengan serangkaian acara yang mengiringi. Akhir pekan ini sungguh terasa istimewa bagi semua orang yang merasa diri sebagai warga Indonesia. Upacara bendera plus aneka perlombaan diadakan di mana-mana di seantero negeri.

Seperti halnya tanggal 17 Agustus 1945 yang menjadi tanggal “keramat” bagi bangsa negara kita, demikian juga 1 tanggal khusus bagi temans sesama umat Paroki Mangga Besar. Yup, apalagi kalau bukan tanggal 3 Januari… ingatkah kamu tahun kelahiran paroki ini? Untuk menyegarkan ingatan, cek saja bagian “Berdirinya Paroki Mangga Besar.”

Dan (surprise!) edisi kali ini membuka Bagian 2 Edisi Spesial Sejarah Paroki dengan judul “Sejarah Awal Paroki.” Bagian materi pertama penjelasannya, disusul dengan 2 bagian “jembatan” dengan Bagian 1 supaya kamu tidak perlu scroll ke bawah cuma untuk menyegarkan ingatan. Kalau masih ada yang terasa mengganjal dari bagian materi terakhir dari pekan lalu, simak terus saja rangkaian Edisi Spesial Sejarah Paroki dalam Facts On Weekend ini. Sampai ketemu lagi minggu depan, dan tetap terus semangat!

Go to Top