Profil Singkat dan Kedatangan Pastor Edwards Cappers, MSC
Semula Pastor asal Belanda yang satu ini berkarya di daerah Kepulauan Kei dan Papua. Faktor kesehatan yang memaksa beliau pindah ke Batavia di tahun 1932.
Sebenarnya sang pastor ditempatkan di kota ini untuk membantu Pastor Baptist, MSC di Kantor Waligereja di Jalan Gunung Sahari. Kedatangan beliau yang membuat tahun 1932 menjadi tahun “Rahmat” karena karya misi pertamanya juga mengambil “peran kosong” yang tadinya diisi oleh Pastor Kortenhorst, SJ.
Jadi penasaran kan peran kosong apa itu? Lanjut yukss!
Pendekatan yang Membuahkan Stasi
Melihat misa yang diadakan di Batavia saat itu hanya dengan Bahasa Belanda, maka Pastor Edwards Cappers mendekati umat Katolik lokal yang tidak bisa berbahasa itu. Mereka dari etnis Tionghoa, suku Flores, suku Kei, dan berbagai kalangan lain. Pelayanan misa mulai diadakan dengan Bahasa Melayu di daerah Mangga Besar.
Pada tahun 1932 itu juga, mereka membentuk 2 stasi baru yang berinduk pada Paroki Katedral. Stasi Mangga Besar dan Stasi Tanjung Priok. Berhubung kehidupan umat saat itu yang kian berkembang dan butuh pelayanan yang lebih, Pastor Edwards dan Pastor Baptist lalu ditugaskan untuk menjadi gembala di daerah Pelabuhan Tanjung Priok.
Sudah tahu kan sejarahnya Stasi Mangga Besar. Lantas, apa sampai di situ saja?
Awal Mula Sekolah HCS
Saat itu, Paroki Katedral punya sebidang tanah di daerah Mangga Besar. Pada Sabtu, 30 Juli 1932, tanah itu dijual kepada tarekat para bruder Budi Mulia yang sedang butuh lahan untuk membangun sekolah. Di sisi lain, penjualan itu untuk melunasi hutang “PGDP” Katedral dalam pembangunan gereja Paroki Theresia dan reparasi barang-barang berat pada Gedung Katedral.
Atas dukungan penuh dari Pastor Stenrnberk, maka pembangunan gedung sekolah HCS (Hollandsch Chineesche School) di tanah ini pun dimulai. Para bruder Tarekat BM (Kongregasi Bruder-Bruder Boedi Moelia) datang di tahun yang sama. Sekitar 1 tahun berlalu, tepatnya pada Selasa, 27 Juni 1933, sekolah ini akhirnya diresmikan dan diberkati.
Loh, apa hubungannya dengan Sekolah HCS ya?
“Gereja Darurat” Pertama Paroki Mangga Besar
Sesuai dengan namanya, Sekolah HCS ditujukan bagi keturunan etnis Tionghoa di daerah sekitar Prinsenlaan No. 135, yang kini disebut Mangga Besar Raya. Berlokasi di samping Rumah Sakit “Yang Seng Ie” yang kini menjadi RS Husada. Di sanalah Stasi Mangga Besar mulai mengadakan Misa Kudus mingguan berbahasa Latin dan Melayu.
Mulai Minggu, 3 Februari 1935, misa diadakan secara bertahap dengan pimpinan Pastor Edwards Cappers dan Pastor Baptist. Aula Sekolah Boedi Moelia menjadi “Gereja Darurat” pertama calon paroki Mangga Besar, yang terus terpakai hingga Minggu, 16 Juli 1950. Statusnya gereja pembantu alias stasi.
Jadi, Sekolah HCS atau Boedi Moelia itulah “Gereja Darurat” pertama Paroki Mangga Besar. Masih adakah cerita kelanjutannya?
Perkembangan Stasi dan “Gereja Darurat”
Pada tahun 1935 juga, misa dipindahkan ke pendopo sekolah. Berhubung jumlah umat yang sebagian besar etnis Tionghoa berbahasa Melayu sudah mencapai sekitar 500 orang.
Berhubung misa ini menjadi satu-satunya misa yang berbahasa Melayu di Batavia, maka setiap 1 bulan sekali, stasiun NIROM (Nederlansch Indie Radio Omroep Maatschappij) menyiarkannya melalui radio.
Semakin banyaknya umat membuat bruder dan koster yang ikut membantu, juga dapat tugas baru. Setiap minggu, mereka menghitung jumlah umat yang datang untuk dilaporkan ke Pastor di Katedral. Hal ini menjadi rekomendasi bahwa karya pastoral di daerah Mangga Besar sungguh berguna.
Pergantian Karya Misi
Perkembangan umat Katolik di Batavia semakin besar. Sehingga pada tahun 1938, para pastor Belanda di kota ini mendapat tugas baru. Ternyata umat di daerah Kemakmuran juga membutuhkan paroki.
Menurut catatan dari G. Vriens, SJ dalam Het Bestuur o.c. Sint Claverbond 52 di tahun 1940, Pastor Edwards Cappers yang kebagian karya misi di sana. Maka, kepindahan tugas beliau ke Paroki Kemakmuran mengakhiri karya pelayanannya untuk Stasi Mangga Besar.
Sudah maju, eh akhirnya ditinggal juga ya. Jadi, siapa pengganti Pastor Edwards Cappers?
Amanat yang Menjadi Visi
Entah kapan waktu persisnya, Vikaris Apostolik Batavia ke-6 (periode: 3 Oktober 1934 -1952) yang bernama Peter J. Wilekens, SJ memberi amanat:
“Gereja pembantu (stasi) itu harus berkembang menjadi Gereja berdikari, Gereja berbahasa Melayu yang pertama…”
Apakah visi Stasi Mangga Besar dari Romo Vikaris Apostolik ini bisa mencapai target?
Nantikan: Pastor Ketiga dan Masa Perang Dunia
Nantikan jawaban dari 2 pertanyaan di penghujung bagian terakhir tadi di edisi pekan depan. Edisi Spesial yang bakal menceritakan kedatangan pastor asal Belanda ketiga yang melayani komunitas umat etnis Tionghoa di daerah calon Mangga Besar. Seorang pastor asal Jesuit, tarekat yang sama dengan Pastor Kortenhorst di Edisi Spesial sebelumnya.
Edisi Spesial yang juga menceritakan situasi genting di kota Batavia semasa terjadinya Perang Dunia. Disertai dengan masa pendudukan bangsa Jepang selama 3 tahun dari tahun 1942 hingga Agustus 1945.
Sumber rangkaian Edisi Spesial:
Buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar – Jakarta Barat (3 Januari 2020)
Tanpa terasa kita sudah memasuki bulan Agustus 2025 ya temans. Di bulan ini, 80 tahun sudah negara tercinta kita berdiri. Cerita Edisi Spesial pekan depan tampaknya memang sudah Tuhan atur untuk “menyambut” momen HUT RI di usia matang yang genap 8 dekade. Silakan cek bagian terakhir yang spoiler 2 tema besarnya.
Sebelum itu, simak dulu kisah Pastor Edwards Cappers yang sudah dijanjikan Edisi Spesial sebelumnya di 2 pekan lalu. Berkat jasa beliau, komunitas umat Katolik di daerah “calon” Mangga Besar berkembang menjadi stasi. Tidak sampai di situ loh, Stasi Mangga Besar bisa mendapat tempat untuk mengadakan Misa Kudus mingguan di “Gereja Darurat” pertama.
Ada sebuah sekolah di Prinsenlaan (kini Jalan Mangga Besar Raya) yang menjadi lokasi “Gereja Darurat”. Mampir yuks ke 2 bagian di urutan tengah (“Awal Mula Sekolah…” dan “Gereja Darurat Pertama…”) edisi kali ini. Kalau kamu mungkin pelajar atau lulusan sekolah itu, kamu boleh berbangga juga dengan sejarah sekolahmu ini.
Ada sejumlah fakta menarik juga loh seputar “Gereja Darurat” pertama ini. Semuanya bisa kamu temukan di bagian “Perkembangan Stasi dan Gereja Darurat.” Semoga rangkaian Edisi Spesial Facts On Weekend ini bisa menambah kecintaan kita pada berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta, khususnya Paroki Santo Petrus dan Paulus – Mangga Besar. Mengamini amanat sang Vikaris Apostolik Batavia di bagian “Amanat Menjadi Visi”.
