Skip to content Skip to footer

One Fact E-Friday Special: “Perintis” Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar

Edisi Spesial #1: “Perintis” Paroki Mangga Besar (Perkenalan Edisi Spesial)

Pengantar Edisi Spesial & Bagian 1: Awal Mula Paroki

Mulai pekan ke-2 Juli 2025, One Fact E Friday (OFEF) tampil dalam rangkaian Edisi Spesial. Kita ingin mengenang kembali titik-titik penting dalam Sejarah Gereja St. Petrus dan Paulus dalam rangka pembangunan gedung gereja baru.

Edisi Spesial terdiri dari beberapa bagian dalam sejarah Paroki, yang dimulai dengan Awal Mula Sebelum Terbentuknya Paroki. Bagian 1 terbagi lagi dalam sejumlah bahasan kecil yang simpel dan menarik. Yang pertama, yuk kita kenali 3 orang sosok pastor Katolik asal Belanda yang berperan penting dalam proses berdirinya Paroki. Cuuussss…

“Perintis” Paroki Santo Petrus & Paulus Jakarta

Di dalam buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar dan juga majalah Kontak (Januari 1981), tertulis 3 nama pastor Katolik asal Belanda yang berperan besar dalam sejarah awal paroki:

  • Pastor H. Kortenhorst, SJ dengan masa karya di Batavia: 1898 – 1917
  • Pastor Edwards Cappers, MSC berkarya di Batavia sejak 1932
  • Pastor Leo Michael Ignatius Marie Zwaans, SJ (Leo Zwaans) berkarya di Batavia sejak 1938

Wah siapa itu? Yuk kenalan….

#1. Pastor H. Kortenhorst, SJ

Seorang pastor Belanda yang awalnya berkarya di Bangka sejak tahun 1877, dipindahkan ke Batavia pada tahun 1898. Berkat jasa beliau, lahirlah komunitas Katolik yang berfokus pada pelayanan kaum imigran etnis Tionghoa di “Toko Tiga” daerah Glodok. Karya pelayanannya terhenti setelah Tuhan memanggilnya di tahun 1917.

Buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia menyebutkan Pastor H. Kortenhorst, SJ sebagai pastor pertama yang berkarya di kalangan etnis Tionghoa di Batavia dan ini menjadi cikal bakal bagi pelayanan kaum Tionghoa di sekitar Mangga Besar.

#2. Pastor Edwards Cappers, MSC

Faktor kesehatan memaksa pastor Belanda dari Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC) ini berpindah karya pelayanan dari Kepulauan Kei dan Papua ke Batavia. Tak lama tiba di tahun 1932, beliau ikut membentuk Stasi Mangga Besar (bagian dari Paroki Katedral), dan mempersembahkan misa di Hollandsche Chineesche School/HCS (sekarang Budi Mulia).

Sayangnya, karya pelayanan beliau di stasi bentukannya ini hanya untuk 6 tahun saja. Adanya pergantian pastor bagi kalangan umat etnis Tionghoa pada tahun 1938 membawa Pastor Edwards Cappers ke tempat pelayanan yang baru.

#3. Pastor Leo Zwaans, SJ

Pastor Belanda pengganti Pastor Edwards Cappers ini tadinya berkarya di Semarang. Beliau mendapatkan perutusan dari Mgr P. Willekens SJ (vikaris apostolik Batavia) untuk mendirikan Gereja berbahasa Melayu yang pertama. Beliau inilah yang membangun cikal bakal Paroki Mangga Besar.

Walaupun belum memiliki bangunan tetap, tanggal 3 Januari 1940, pendirian Gereja dikukuhkan dalam “Stichtingsbrief” yakni penetapan Yayasan Gereja Katolik dan Pengurus Kemiskinan Gereja St. Petrus dan Paulus di Batavia” (sekarang PGDP) oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Willekens SJ; P. Leo Zwaans SJ diangkat sebagai ketuanya. Gedung ‘darurat’ Gereja ada di pondok HCS.

Namun, beliau ikut merasakan situasi serta penderitaan pada masa Perang Dunia II – penjajahan Jepang di Batavia dan selama masa itu, muncullah rasul-rasul awam yang ikut berperan dalam gerak gereja. Tahun 1946, P. Leo Zwaans diangkat sebagai Pastor Kepala.

Latar Belakang Waktu & Tempat Bagian 1

Dari ketiga pastor inilah, akan terangkai cerita awal mula Paroki Mangga Besar, sejak edisi ke-2 pekan depan. Tanpa kehadiran mereka yang tentu berkat kuasa Roh Kudus, tidak akan ada sejarah yang tertulis bagi Paroki Mangga Besar.

Bagian 1: Awal Mula Paroki bersumber dari Bab ll: Profil Paroki Mangga Besar Jakarta Barat; poin 2 berjudul Latar Belakang Sejarah Pelayanan Gereja Katolik di Kalangan Etnis Tionghoa di Batavia Tahun 1900 – 1930-an.

Maka, konteks waktu sejarahnya: menjelang pertengahan abad 20. Dimulai sejak kepindahan Pastor Kortenhorst ke Batavia di tahun 1898. Sedangkan konteks tempat berlokasi di Batavia (pemakaian nama kota sampai tahun 1942) atau Djakarta (sejak era penjajahan Jepang).

Nantikan: Kisah Awal Mula Paroki Bersama Pastor Kortenhorst

Edisi pekan depan akan menceritakan kisah Awal Mula Paroki yang menjadi cikal bakal komunitas umat Katolik dari kaum imigran etnis Tionghoa di kota Batavia sebelum abad 20. Tentunya bersama Pastor H. Kortenhorst, SJ yang namanya masuk ke dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Sumber rangkaian Edisi Spesial:

Buku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar – Jakarta Barat (3 Januari 2020)

Misi di antara Orang Tionghoa, Majalah Kontak (Januari 1981)

Di tahun 2025 ini, Paroki Mangga Besar mengalami momentum yang terbilang unik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah paroki, peringatan Pesta Pelindung Santo Petrus dan Santo Paulus pada 29 Juni lalu diadakan berbarengan dengan proses penghancuran gedung gereja lama untuk dibangun kembali gedung yang baru. Dari sudut waktu Gereja Katolik Roma-Vatikan: Tahun Yubileum (Porta Sancta) dari Desember 2024 hingga Januari 2026, dan pergantian Bapa Paus dari Paus Fransiskus I menjadi Paus Leo XIV. Betul-betul terasa istimewa.

Sambil menantikan proses “transformasi” gedung gereja utama (bukan “darurat”) menjadi baru, One Fact E Friday (OFEF) ingin menemani dengan menghadirkan masa lalu sejarah Paroki Mangga Besar. Ternyata, tetangga Paroki Katedral Jakarta ini sempat lebih dari 1 kali memakai lokasi “Gereja Darurat” loh.

Tak hanya itu saja, para perintis Gereja Katolik Mangga Besar berjumlah 3 orang dengan peran masing-masing yang unik: pastor pertama di kalangan etnis Tionghoa di Batavia, pastor pembentuk Stasi Mangga Besar, dan pastor pembangun cikal bakal Paroki Mangga Besar. Keren baget kan? Siapa saja mereka itu ya?

Kalau kamu penasaran juga sama kisah singkat karya misi mereka beserta cerita sejarah Paroki Mangga Besar yang lebih lengkap, ikuti terus rangkaian Edisi Spesial OFEF sejak edisi perdana ini. Pokoknya, pantau terus akun Instagram Paroki Mangga Besar di setiap akhir pekan.

Go to Top